Waktu wisuda, ada satu pertanyaan yang hampir pasti muncul dari setiap orang yang membaca ijazahku: “Loh, katanya anak IT — kok gelarnya S.Pd.?”
Angki Pranamukti, S.Pd.
Bukan S.Kom. Bukan S.T. Tapi Sarjana Pendidikan — dari Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Universitas Negeri Yogyakarta.
Tentu saja, aku paham kenapa pertanyaan itu muncul. Orang membaca “S.Pd.” dan langsung mengasosiasikannya dengan guru, bukan developer. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sebenarnya, mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika tetap belajar pemrograman, jaringan, basis data, dan sistem informasi — sama persis seperti jurusan IT lainnya. Perbedaannya ada di kedalaman dan komposisi. Sebagai contoh, kalau Jurusan Teknologi Informasi menempuh Pemrograman 1 dan Pemrograman 2, kami menempuh Pemrograman 1. Selanjutnya, kami mengisi sisa SKS tersebut dengan teori belajar, pedagogi, perancangan pembelajaran, dan psikologi pendidikan.
Singkatnya, aku bukan salah jurusan. Hanya saja gelar S.Pd. di CV seorang developer memang butuh satu kalimat penjelasan ekstra — karena persepsi orang belum sampai ke sana.
Menariknya, penjelasan ekstra itulah yang justru membuka percakapan paling menarik dalam karierku.
Hari Itu di Ruang Tim IT
Beberapa waktu lalu, aku duduk bersama BPH Humas LHI Islamic School — tempatku sekarang bekerja sebagai IT Staff Coordinator dan Fullstack Engineer.
Saat itu, agenda rapatnya membahas rebrand website sekolah di lhi.sch.id.
Secara teknis, aku sudah tahu langkah apa yang akan aku ambil. Misalnya, menggunakan WordPress, custom theme, dan desain yang lebih modern. Namun, yang lebih penting dari apa-nya adalah mengapa-nya. Oleh karena itu, aku harus menyampaikan hal tersebut kepada orang yang tidak hidup di dunia kode.
Aku tidak mulai dengan bicara soal UI/UX. Tidak pula membahas soal page speed atau Core Web Vitals.
Sebaliknya, aku mulai dengan satu kalimat:
“Pak, market LHI itu menengah ke atas. Calon wali murid yang kita sasar — mereka pertama kali kenalan dengan sekolah ini bukan dari brosur, melainkan dari website. Akibatnya, kalau tampilannya tidak mencerminkan kualitas sekolahnya, kita sudah kalah sebelum mereka masuk halaman pendaftaran.”
Ruangan diam sebentar.
Kemudian, beliau mengangguk.
Beliau setuju bukan karena aku bicara soal framework atau pixel. Melainkan, karena aku berbicara dalam bahasa yang relevan dengan dunia mereka — yaitu bisnis, reputasi, dan kepercayaan orang tua.

Analogi Kos-kosan yang Mengakhiri Perdebatan
Pada kesempatan lain, aku harus menjelaskan konsep WordPress Multisite — dan alasan kenapa konsep ini lebih masuk akal daripada menginstal WordPress secara terpisah untuk setiap unit sekolah.
Tentu saja, ini bukan topik yang mudah kita jelaskan kepada orang non-teknis. Multisite, subdomain, shared database, network admin — kalau aku menjejerkan semua istilah itu, rapat bisa bubar sebelum kami mengambil keputusan.
Maka dari itu, aku memakai analogi.
“Bayangkan selama ini kita punya 5 kontrakan di 5 alamat berbeda. Kalau ada yang perlu kita perbaiki — seperti genteng bocor atau cat tembok kusam — kita harus pergi satu per satu ke masing-masing alamat. Pastinya, cara ini bikin capek, mahal, dan butuh waktu.
Sebaliknya, WordPress Multisite itu seperti membangun satu kos-kosan besar di satu kavling. Semua kamar berada dalam satu atap. Dengan demikian, kalau ada perbaikan, kita cukup datang ke satu tempat dan menyelesaikan semuanya sekaligus.”
Tidak ada yang bertanya soal shared database setelah itu. Semua peserta rapat langsung paham. Bahkan, kami langsung menyepakati keputusan dalam satu rapat tersebut.
Dan di sinilah aku mulai menyadari sesuatu yang sudah lama ada di depan mata.
Yang Kupelajari di Kampus Ternyata Bukan Pelengkap
Di Pendidikan Teknik Informatika UNY, kami belajar bukan hanya menguasai materi kurikulum — tapi juga bagaimana cara mengajarkan materi tersebut. Contohnya seperti teori belajar, penyederhanaan konsep kompleks, hingga bagaimana otak manusia memproses informasi baru.
Waktu itu rasanya seperti mendapat beban SKS tambahan. Sebab, menurutku yang paling penting kan bisa ngoding.
Tapi ternyata, kemampuan itulah yang paling sering aku pakai dalam pekerjaanku sehari-hari sebagai fullstack developer — bahkan, lebih sering dari hafalan syntax.
Sebagai contoh, saat menjelaskan proposal proyek ke klien UMKM yang belum pernah punya website, aku pada dasarnya sedang mengajar. Aku sedang menyederhanakan sesuatu yang asing menjadi sesuatu yang masuk akal bagi mereka.
Lalu bagaimana dengan dokumentasi handover WordPress yang aku susun supaya klien bisa mengelola kontennya sendiri? Itu bukan sekadar panduan teknis. Faktanya, itu adalah kurikulum singkat yang aku rancang khusus untuk satu orang.
Oleh karena itu, setiap kali aku duduk di rapat lalu menerjemahkan keputusan teknis menjadi bahasa bisnis — di sana aku sedang memfasilitasi pembelajaran, persis seperti materi di bangku kuliah.
Software engineering modern — apalagi yang sudah terintegrasi AI — punya hambatan teknis yang semakin rendah. Tools makin pintar. Code generation makin cepat. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak bisa AI ciptakan: kemampuan membuat orang lain benar-benar mengerti dan percaya pada keputusan yang kamu buat.
Pada dasarnya, itu skill manusia. Dan ternyata, skill itulah yang aku pelajari dari gelar S.Pd.-ku.
Jadi, Apa Artinya Ini?
Aku sama sekali tidak menyesal masuk Pendidikan Teknik Informatika. Justru sebaliknya.
Kami memang tidak menyelam sedalam jurusan teknik murni di sisi pemrograman. Walaupun begitu, kami keluar membawa keahlian yang jarang jurusan lain ajarkan: cara berpikir tentang bagaimana manusia memahami sesuatu. Apalagi di dunia software engineering yang semakin penuh dengan developer berskill coding setara, kemampuan komunikasi itu ternyata sangat langka.
Kesimpulannya, aku tidak perlu lagi menjelaskan gelar S.Pd. ini panjang lebar.
Cukup tunjukkan caranya bekerja.
Jadi, kalau kamu sedang mencari web developer yang tidak hanya bisa membangun — tapi juga bisa mendengar, menjelaskan, dan memastikan proyekmu tepat sasaran sejak diskusi pertama — mari ngobrol.